April 6, 2013

Undangan dan Susunan Acara Dharma Shanti Nasional Tahun 2013 Istora Senayan, Jakarta.

Undangan Dharma Shanti Nasional



 SUSUNAN ACARA DHARMA SHANTI NASIONAL
PERAYAAN HARI RAYA NYEPI TAHUN BARU SAKA 1935
Minggu, tanggal 7 April 2013, Istora Senayan Jakarta 
 

A.    SEBELUM PRESIDEN TIBA.
15.00-15.20     Pinandita mapuja dan prayascita ruangan acara
15.20-16.00     Seluruh undangan umat telah berada ditempat acara
16.00-16.30     hiburan berupa tarian
16.30-16.45     Penyerahan hadiah ogoh-ogoh
16.45-17.45     Nyanyian Dharma dan hiburan, Dewa Bujana,
                        Ayu Laksmi dkk.
17.45-18.00     Penyalaan dupa suci oleh Ida Pedanda dilanjutkan
penyerahan kepada 3 orang wakil umat
(Ketua Umum Parisada, Ketua Umum Panitia,
                        Romo Pandita Puja Brata Sejati)
18.00-18.05     Puja Tri Sandya dipimpin oleh
Romo Pandita Puja Brata Sejati
18.05-18.30     Dharma Wacana oleh Ida Bagus Agastia

B.     PERSIAPAN ACARA POKOK
18.45-19.15     Persiapan penerimaan undangan VVIP dan VIP
19.15-19.20     Pembacaan susunan acara
19.20-19.30     Presiden RI beserta Ibu Hj Ani Bambang Yudhoyono
tiba diruang VVIP

C.     ACARA POKOK
19.30-19.33     Pembukaan oleh MC
19.33-19.38     Menyanyikan lagu Indonesia Raya diiringi korsik
19.38-19.45     Tari penyambutan: Tari Rebong
19.45-19.52     Pembacaan Sloka
19.52-19.57     Paloran Ketua Umum Panitia Penyelenggara
19.57-20.07     Uraian Makna Hari Raya Nyepi oleh
Ketua Umum PHDI Pusat
20.07-20.22     Sambutan/amanat Bp. Presiden RI
20.22-20.27     Doa keselamatan dan kedamaian bangsa
oleh Romo Pandito Pujo Brata Sejati
20.27-20.57     Oratorium”Menapak Kejayaan Nusantara”
oleh:LKB Saraswati Jakarta
20.57-21.00     Penyerahan bunga tangan dan foto bersama
dengan Presiden RI dan Ibu Hj Ani Yudhoyono

D.    PENUTUP
21.00-21.10     Presiden RI beserta Ibu meninggalkan tempat acara.

E.     ACARA TAMBAHAN
21.10-21.30     Simakrama
(pemberian ucapan selamat Hari Raya Nyepi antar umat).

April 5, 2013

Hari Raya Kuningan dan Piodalan Pura Dalem Purnajati


Dua hari jelang hari Raya Kuningan dan Piodalan di Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri-Jakarta Utara, Umat Banjar Jakarta Utara bahu membahu melakukan ‘NgAyAh’ demi suksesnya acara tersebut.

Para ibu sibuk menyiapkan banten dan prasaran upakara lainnya, remaja wanita menyiapkan kopi dan snack buat para pengayah.., sementara bapak-bapak dan remaja pria berbagi tugas, ada yang memasang umbul-umbul, kain wastra, membuat penjor dan aneka kegiatan lainnya yang berkaitan dengan kelengkapan dan keindahan Pura.

Nuansa persaudaraan dan kekeluargaanpun sangat terasa, mungkin inilah salah satu sebab Pura ini tak pernah sepi pengayah. Ditambah lagi para sesepuh Bajar Jakarta Utara yang kerap memberikan wejangan-wejangan yang mencerahkan disela-sela kegiatan ‘NgaYah’ tersebut.

Semoga Perayaan Hari Raya Kuningan dan Piodalan Pura Dalem Purnajati berjalan lancar, semoga kebahagiaan dan kedamaian menyelimuti hati setiap insan…


Selamat Hari Raya Kuningan.., semoga cahaya terangNYA senantiasa menuntun batin  kita pada ‘KeSaDarAn’.



Cibitung, 4 April 2013

December 10, 2011

Mendak Tirta ke Candi Jiwa

Hari ini, Sabtu 10 Desember 2011 adalah Purnama Kanem dan bertepatan dengan Piodalan di Pura Segara Cilicing.

Sehari sebelumnya Jumat, 9 Desember 2011 sejak pagi hari Panitia Piodalan telah melakukan ritual Mendak Tirta ke Pura-pura yang ada di JaBoDeTaBek. Dan malam harinya ritual Mendak Tirta dilakukan juga di Candi Jiwa-Karawang.

Mendak Tirta di Candi Jiwa menjadi lebih berwarna karena dipandu langsung oleh Romo Jati. Rombongan yang ikutpun lumayan banyak, sekitar 26 orang 'pengiring' dari berbagai kalangan dan usia. Mulai dari Pengurus inti Parisada Jakarta, KPSHD dan simpatisan... termasuk satu anak yang baru berusia 2 tahun 6 bulan ikut hadir dengan gelora semangat yang luar biasa :)

Kami tiba sekitar pukul 12 malam dan langsung mempersiapkan sarana dan prasarana persembahyangan. Suasana hening mulai menyelimuti saat Romo Jati mulai menguncarkan mantra, alunan merdu mantra yang mengumandang disertai suara jangkrik dan binatang malam sungguh membuat segar suasana batin.
Selesai Romo Jati melakukan 'Puja' Persembahyanganpun digelar..., yang dilanjutkan dengan MEDITASI. Suasana HENING-pun semakin terasa..

Selesai persembahyangan dan nunas Tirta, Romo Jati berkenan memberikan sedikit wejangannya pada kami terkait makna dan tujuan Leluhur kita membudayakan tradisi Mendak Tirta.
Setelah seluruh rangkaian acara ritual selesai, kamipun mulai nunas banten (sesaji)bersama dalam nuansa kebersamaan yang kental bak sebuah keluarga.

Terima kasih Romo Jati.., Terima kasih Banjar Jakarta Utara yang mendukung penuh kegiatan ini, terima kasih Parisada Jakarta yang berkenan bergabung dan rekan2 semua yang telah dengan sukarela ikut urun dana dan tenaga hingga acara ini berjalan sebagaimana mestinya. Semoga Hyang Widhi senantiasa melimpahkan Anugerahnya bagi kita semua.







November 8, 2011

Segera Terbit Buku baru AGF

Anatta Gotama Foundation (AGF), akan segera meluncurkan Buku Meditasi Berkas Cahaya Kesadaran - SEGERA GELAR FONDASINYA!

Peluncuran buku akan dilaksanakan pada Kamis, 24 November 2011 pukul 20.00 WITA, bertempat di Sekretariat Anatta Gotama Foundation, Jl. Ceroring No. 38, Denpasar - Bali 80232




Buku ini adalah buku ke-3 yang diterbitkan oleh AGF. Dua buku sebelumnya adalah "108 Tips Renungan Meditasi" dan "Di Kaki Padma Sang Guru Sejati" .

Apabila kalian tidak benar-benar menggelar fondasinya,
kalian bisa saja bermain-main dengan meditasinya akan tetapi itu tak punya arti
- seperti orang-orang yang pergi ke Timur itu,
yang menemui beberapa guru,
yang akan memberi tahu mereka,
bagaimana duduk, bagaimana bernafas,
memberi tahu mereka apa yang mesti dilakukannya,
memberi tahu mereka ini dan itu,
dan yang sekembalinya menulis sebuah buku,
yang semuanya omong kosong belaka.

- J. Krishnamurti





Buku-buku dari AGF tidak diperjual belikan, para peminatnya dapat menghubungi para penghubung yang terdekat, sebagai berikut :


* Padang dan sekitarnya: Iskandar Effendi / iskandar.effendi@gmail.com / 087895476376.
* Jakarta dan sekitarnya: Adji Mudhita / adji.mudhita@gmail.com / 0811937277.
* Tangerang dan sekitarnya: Reggie / regy.79@gmail.com / 0816770001.
* Bekasi dan sekitarnya: Nengah Suijaya / pritasi@yahoo.co.id / 08129575132.
* Yogyakarta dan sekitarnya: Aris Widodo / danadyaksa06@yahoo.com / 08176099320.
* Surabaya dan sekitarnya: Ikha Kurniawan / red_ikha@yahoo.com / 0816596909.
* Bontang dan sekitarnya: Kadis Satria / kadis_btg@yahoo.co.id / 081253463996.
* Medan dan sekitarnya: Komang Agus Aryawan / bhairava.arya@gmail.com / 085936118499.
* Batam dan sekitarnya: Cayzein Okinawa Chen / ch3n_ik_wi88@yahoo.com / 08192032656.
* Denpasar dan sekitarnya: Sekretariat AGF / anattagotama@gmail.com / 0361 228434.
* Khusus peminat yang berdomisili di luar-negeri : Reggie / regy.79@gmail.com / 0816770001

* Keterangan lebih lanjut bisa menghubungi:

1. Adji Mudhita / adji.mudhita@gmail.com / 0811937277.
2. Reggie / regy.79@gmail.com / 0816770001 atau
3. email ke: beceka-owner@yahoogroups.com



Semoga informasi ini bermanfaat adanya.


Persaudaraan dalam Kasih selalu,
Anatta~Gotama Foundation.

March 23, 2011

NgAYaH

Kata Ngayah... Kerja Bakti... Gotong Royong, sudah demikian mengakarnya dibenak warga Banjar Jakarta Utara. Bahkan seringkali warga menanggalkan kepentingan pribadinya saat ada instruksi 'NgAYaH' dari Ketua Banjarnya. Pak Taguh misalnya, salah seorang warga tempek sukapura yang dengan suka cita membatalkan rencana 'belanja' untuk mengisi warung kelontong yang dikelolanya setelah mendapatkan info ada kegiatan 'NgAYaH di Pura Dalem Purnajati, ini baru satu contoh, masih banyak contoh2 yang lain.

Hari itu, Minggu 20 Maret 2011 ajakan 'NgAYah' Ketua Banjar Jakarta Utara disambut antusias oleh warganya, sehingga pekerjaan yang sesungguhnya berat itupun menjadi sangat ringan. Bahkan dapat diselesaikan melampaui target yang ditentukan.

Dari pengamatan selama ini 'NgAYaH' (di Pura) memunculkan efek keuntungan berganda, diantaranya:
  • Efek Kesehatan - Bila yang dikerjakan termasuk kategori berat, seperti angkat pasir, memindahkan batu bata (hitung2 olahraga.. hehehe)
  • Efek Ceria - Seruwet apapun persoalan baik dikantor ataupun dirumah saat membaur dengan pengayah lainnya pasti sirna dan berganti keceriaan.
  • Efek Kecerahan Batin - Setiapkali ada kegiatan 'NgAYaH' Pinisepuh yang hampir tidak pernah absen adalah Bp. Made Lanus. Beliau tak hanya pandai memotivasi pemuda untuk bahu membahu menyelesaikan pekerjaan, namun juga tak henti-hentinya memberikan wacana-wacana spiritual (sambil 'NgAYah'... sambil dengerin Dharma Wacana..)
Meski masih banyak efek2 lainnya, namun untuk sementara hanya efek itulah yang hendak disampaikan dalam tulisan ini.

Sebagai Pembaca yang bijaksana tentu tak akan percaya begitu saja dengan apa yang telah dipaparkan melalui tulisan ini dan tentunya ingin membuktikan kebenarannya kan? ...hehehe... Kebetulan, di Pura Dalem Purnajati saat ini sedang dilakukan RENOVASI TOTAL yang tentu saja banyak membutuhkan biaya dan tenaga.

Bagi yang berkenan YUK KITA NGAYAH...
Yang memiliki dana lebih... silahkan BERDANA PUNIA
Yang tak ada dana bisa NGAYAH TENAGA
Yang tak punya cukup tenaga, bisa tetap datang ke Pura Dalem..., setidaknya kedatangan Anda dapat memberikan semangat bagi pengayah lainnya.
Yang tak sempat datang bisa NGAYAH DENGAN DOA agar pembangunan dapat berjalan lancar....




--Pura Dalem Purnajati--
Jl. Raya Cilincing RT. 011 RW 015
Cilicing Jakarta Utara

--Bank Mandiri KCP JKT Mal Sunter--
Yayasan Suka Duka Banjar Jakarta Utara
No. Rekening: 120-00-0739567-1


February 20, 2011

Membuat Ogoh-ogoh

Seperti halnya Banjar2 lain di Jabodetabek, tahun 2011 ini Banjar Jakarta Utara juga akan ikut meramaikan Pawai ogoh-ogoh di Monas tanggal 4 Maret mendatang, berbagai persiapanpun telah digelar, dan semua dilakukan dalam nuansa kebersamaan.

Berikut adalah potret kegiatan yang sempat dibidik pada Minggu, 20 Februari 2011:


April 20, 2010

Kesempatan Berdana Buku


Saudara-saudariku yang budiman,

Puji syukur, buku pertama: 108 Tips Renungan Meditasi, mendapat sambutan yang sangat mengesankan dari para peminat spiritual dan meditasi. Sampai saat ini, kami telah menyalurkan tak kurang dari 500 eksemplar kepada Saudara-saudari peminatnya.

Dan kini, kami, Anatta~Gotama Foundation, dalam waktu dekat kembali mendistribusikan secara cuma-cuma buku kedua: Di Kaki Padma Sang Guru Sejati.*

Nah... untuk itu, kepada para Dermawan yang berniat berdana, atau Saudara-saudari yang berniat memanfaatkannya di perpustakaan atau kalangan masing-masing, silahkan menghubungi kami lewat:

1. Regy Gie Ciu / regy.79@gmail.com / 0816 77 0001; atau

2. Adji Mudhita / sangwaktu@gmail.com / 0811 937 277; atau

3. Moderator milis BeCeKa / beceka-owner@yahoogroups.com

Atas partisipasinya ini, sebelumnya, kami ucapkan banyak-banyak terimakasih.

Salam Persaudaraan dalam Kasih selalu.

Anatta~Gotama Foundation.

March 1, 2010

WINTEN SARASWATI

Udara sore ini demikian cerah, awan tebal yang baberapa hari lalu sempat menghalangi pancaran cahaya mentari, sudah tak tampak lagi. Seolah sengaja memberi kesempatan bagi suksesnya Upacara WINTEN SARASWATI yang saat ini sedang digelar di Pura Dalem Purna Jati Tanjung Priok.
WINTEN SARASWATI yang diprakarsai oleh Yayasan Pendidikan Mandira Widyaka-Banjar Jakarta Utara diikuti oleh kurang lebih 160 siswa-siswi dari Yayasan Pendidikan tersebut.

Upacara Pewintenan ini sendiri dimaksudkan untuk mensucikan batin para siswa-siswi, agar dapat lebih mudah menerima anugerah dari DEWI SARASWATI, berupa Ilmu Pengetahuan sekaligus agar kelak Pengetahuan yang telah diterima dapat dimanfaatkan sepenuhnya di jalan DHARMA.

November 24, 2009

Ksatria


Seorang satria tanpa kuda berlari,
telusuri jalan terjal berliku nan terjal dan penuh duri
demi satu asa, istana impian hati
Napas mulai memburu, terengah..
namun ia tak jua jengah, terlebih putus asa
meski rasa lelah tak terbantah
Sesaat ia memperlambat langkahnya
sambil menanggalkan pakaian perangnya,
langkahnya lebih ringan sekarang
beban pakaian itu demikian berat,
hingga menghambat gerak langkahnya
Seorang Ksatria tanpa kuda dan pakaian perang berlari,
telusuri jalan berliku nan terjal dan penuh duri
demi satu asa, istana impian hati
Peluh telah banjiri sekujur tubuh,
ragapun mulai tampak lusuh,
namun tak jua muncul keluh,
ia tetap teguh
pancangkan tekad dengan kukuh
Kembali ia memperlambat langkah,
sambil menanggalkan pedang pusakanya,
langkahnya semakin ringan
Seorang satria tanpa kuda, pakaian perang dan pedang pusaka
tak lagi berlari,
ia berjalan...
telusuri jalan berliku nan terjal dan penuh duri,
demi satu asa, istana impian hati
Ia berjalan tanpa ambisi,
Ia berjalan bukan lantaran perintah sang raja,
Ia berjalan karena memang harus berjalan,
tak penting lagi baginya, akankah ia tiba di istana impian itu
atau justru mati sebelum tiba
yang ia tahu.., ia harus tetap berjalan.



Jakarta, 30 Oktober 2009

November 15, 2009

Tembang Panca Panugrahan

Tiga hari sudah aku berbaring nyaris tanpa daya
Nyeri.., pedih.., panas.. membaur jadi satu
Sudah kuduga memang sejak beberapa hari lalu
Bahwa raga usang ini akan tergolek
Namun sama sekali tak ku sangka bahwa penyakit yang mendera
Justru penyakit menjijikan yang sangat menular

Oh BUNDA SEMESTA..,
Dalam setian EranG kesakitanku
Aku masih berharap ada makna yang dapat kupetik dari semua ini
Tanya demi Tanya kulontarkan bagi diri
Agar layak kudendangkan kidung syukur
Dari setiap rintihanku
Akhirnya kutemukan jawabnya
Dan kidung syukurpun memang harus ku lantunkan
Lantaran apa yang semula kuanggap derita ini
Sesungguhnyalah sebuah AnuGeRah yang luar biasa
Dan aku mendapat keuntungan berlipat darinya Diantaranya,



  • Aku diijinkan istirahat oleh atasanku sampai sembuh, meski bukan karena simpati semata, melainkan lebih karena rasa jijik dan takut tertular.
  • Tak perlu menambah daftar tumpukan hutang budi. Karena rekan2 kerja tak perlu repot-repot urunan mengumpulkan dana bantuan untuk biaya pengobatan, lantaran mereka tahu aku gak suka ke DOKTER jadi tak perlu biaya pengobatan.
  • Aku tak perlu berjuang keras lagi tuk menghindar dari godaan-godaan nakal gadis-gadis cantik. Lantaran dalam kondisi seperti ini pasti gak ada yang bakal menggoda, Ngeledek mungkin, hahaha….
  • Aku semakin menyadari kasih istri yang begitu luar biasa, terbukti dari caranya merawatku. Plus kedigjayaan putra pertama kami, yang melalui tatapan dan ‘magic words’ [ aa.., mmaa.., eepp.. ooo..] nya mampu mengobati setiap luka pada poriku.
  • Tak kalah kasih Ibuku, tak seperti yang lain yang tak datang membesuk lantaran jijik dan takut tertular, Ibuku justru menangis saat kularang untuk datang. Ia tetap datang dan memberikan berkahnya untukku tanpa rasa jijik. Sembah sujudku bagimu IBU. Engkaulah perwujudan BUNDA SEMESTA bagiku.

  • OH SANG MAHA KASIH..,
    Terima kasih… atas semua anugerah ini…
    ===========
    Den Mas Bagus Dhika
    Sabtu dini hari
    Akhir Okt 2009

    August 28, 2009

    DIBALIK KEINDAHAN PURA GEGER


    Di tengah kepungan riuh-pikuk bisnis pelancongan kawasan Nusa Dua dan sekitarnya, Pura Geger Dalem Pamutih berdiri kukuh, menebarkan pesona alami dari pesisir terselatan Bali. Debur ombak Samudera Indonesia tiada bosan menghias laut di kawasan Pantai Geger, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Gulungan ombak itu sesekali menerjang tebing batu karang, di lain waktu berserakan sebelum sampai di bibir pantai.Hari bertambah senja, suasana pantai di ujung selatan Bali ini semakin memesona seiring kemunculan bulan Purnama di ufuk timur. Perlahan bulan bulat sempurna yang memancarkan sinar putih nan lembut itu meninggi, terus meninggi menyinari biru lautan. Di sudut lain, para petani bulung (rumput laut) yang sedari pagi menjemur hasil panennya, mulai sibuk mengumpulkan rumput laut. Mereka tentu tak ingin rumput laut yang sudah mulai mengering itu kembali membusuk hanya karena terlambat memindahkan ke tempat teduh. “Kalau kena embun malam, rumput laut kembali basah dan bisa menurunkan mutu,” urai Nyoman Suriket, petani rumput laut dari Desa Geger. Tak jauh dari lokasi para petani rumput laut itu, tepatnya pada satu pura di atas onggokan teguh batu karang, puluhan orang tiada kalah sibuk. Orang-orang berbusana adat Bali tersebut silih berganti keluar masuk tempat suci. “Saban Puranama-Tilem orang-orang berdatangan ke pura sejak pagi,” tutur warga Desa Geger, Pan Mira. Pura Geger Dalem Pamutih, begitulah nama tempat suci berpagar tembok pasir hitam tersebut. Saat itu, bertepatan dengan Purnama Karo (Purnama pada bulan kedua dalam kalender Bali). Ini memang merupakan hari yang banyak dimanfaatkan orang Bali untuk datang (tangkil) ke tempat suci ini. Mereka tak terbatas warga sekitar kawasan Nusa Dua. Banyak pula pamedek luar Kelurahan Bualu, seperti dari Badung Utara, Denpasar, Tabanan, Gianyar, bahkan juga dari luar Bali. “Kepadatan mulai terasa,” kata Nyoman Repot, Pamangku Pura Geger Dalem Pamutih, “ketika dibuka akses jalan menuju ke pura, sekitar tahun 1990-an.” Pura Geger kini memang menjadi ‘incaran’ masyarakat dari berbagai lapisan. Ketika isu bencana alam merebak dan meresahkan relung sanubari penduduk Indonesia, termasuk Bali, Pemerintah Provinsi Bali juga menggelar upacara pakelem sebagai sarana memohon keselamatan di kawasan tempat suci ini. Pakelem itu digelar bertepatan dengan Tilem Kasada (bulan ke-12), bulan gelap terakhir di penghujung tahun dalam sistem kalender Bali, Minggu Pon wuku Tambir, 25 Juni 2006. Tengah malam, usai digelar upacara pakelem itu, Bali sempat digoyang gempa kecil—menyusul guncangan dahsyat yang menelan ribuan korban jiwa manusia maupun material, sebulan sebelumnya di Yogyakarta. Tak urung banyak yang mengira-ngira, andai pakelem itu telat dilabuhkan ke tengah samudera, bukan mustahil Bali bernasib lebih parah ketimbang Yogya dan sekitarnya. Di kalangan internasional memang ada yang suka mengutak-atik deretan angka enam sebagai isyarat musibah dahsyat. Kebetulan sehari usai pakelem tersebut digelar kalender Gregorian atau Masehi yang berlaku internasional itu memang menunjukkan deretan angka enam: 26-06-2006. “Saya dapat bisikan gaib Ida Batara, jika pakelem telat dilakukan, Bali bisa habis dilanda bencana pukul 06.00 tanggal 26 bulan 6 tahun 2006,” tutur Men Bukit, wanita sederhana yang kerap ngayah di Pura Geger. Banyak penekun spiritual layaknya Men Bukit: meyakini posisi Pura Geger Dalem Pamutih secara niskala begitu sentral sebagai basis pertahanan ujung selatan Bali. Pura di kaki Pulau Bali ini disebut-sebut satu poros dengan Pura Agung Besakih di lambung Gunung Agung di sisi utara dan Pura Panataran Ped, Nusa Penida, di sisi timurnya. Secara kasat mata Pura Geger ini memang membentuk segitiga tegak lurus dengan puncak Gunung Agung dan daratan Pulau Nusa Penida. Toh, tak mudah menemukan rujukan data otentik formal cikal bakal pendirian Pura Geger Dalem Pamutih ini. Warga sekitar mengira-ngira pura ini semula dibangun masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Adalah lazim di Bali kelompok masyarakat yang menggeluti profesi utama tak lupa pula menstanakan Tuhan dalam berbagai manifestasi. Dari alur pemikiran demikian akhirnya di Bali ada pura swagina, tempat pemujaan yang berkaitan dengan profesi. Pura Rambut Siwi atau Bedugul, misalnya, dikelola para petani buat memuja Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Dewi Uma atau Dewi Sri; Pura Melanting bagi para pedagang memuja Dewi Laksmi atau Rambut Sadana; lalu ada Pura Segara bagi para nelayan memuja Dewa Baruna atau Rudra, kekuatan Tuhan sebagai penguasa samudera. Tujuan pendirian tempat suci jenis ini jelas dalam kaitan mohon kepada manifestasi Tuhan, agar dalam menjalankan kegiatan diberikan keselamatan, berfungsi sebagai tempat memohon kesuburan, menggelar nangluk marana, sekaligus mengupayakan pamahayu jagat. Demikian halnya dengan keberadaan Pura Geger yang dari semula difungsikan sebagai tempat mohon kerahayuan. Itu terbukti dari adanya satu bangunan suci (palinggih) yang berada di sisi timur, sebagai stana Ida Batara Dalem Pamutih atau Ida Batara Dalem Segara. Gedong tersebut, pada pemugaran sekitar tahun 1990-an, diganti dengan meru tumpang tiga. Sebutan Dalem Pamutih di sini cukup mengasosiasikan ingatan kepada sifat Tuhan Yang Mahasuci, Mahabenar secara tradisi disimbolikkan dengan warna putih, tiada ternoda. Siwa atau Iswara sebagai kekuatan terpuncak juga kerap diperlambangkan berwarna putih bersih, tiada bernoda. Selain itu keberadaan pura nan asri ini juga kerap dikait-kaitkan dengan kisah perjalanan Danghyang Nirartha, maharsi dari Jawa Timur, yang bermigrasi ke Bali sekitar abad 15-16. Seperti ditulis dalam beberapa buku yang menjelaskan tentang pura berstatus dang kahyangan di Bali, sepeninggal dari tanah Jawa, Mpu Nirartha melakukan perjalanan suci ke sekeliling pesisir Pulau Bali sampai ke Sumbawa, sebelum akhirnya kembali lagi ke Bali. Pascabalik ke Bali, sebelum ngaluhur (moksa) di Pura Uluwatu, pada ujung barat laut kaki pulau alit ini, sang rohaniwan menyucikan diri, mengheningkan pikiran lewat jalan samadi, beryoga di atas batu karang. “Saya sempat membaca kisah itu dari buku,” tunjuk Mangku Repot. Kakawin Anyang Nirartha yang merekam kisah perjalanan dan perenungan pendeta yang juga pencipta karya susastra kakawin di seputar kaki Pulau Bali ini memang sempat melukiskan jelas: Mpu Nirartha kerap samadi di bawah pohon sawo kecik, dekat pohon kalikum (kem). Sebagai tempat peristirahatan, maharsi ini memilih sebuah gua selebar 20 meter dengan kedalaman 10 meter, di belahan timur, di bawah pura. Setiap hendak menggelar samadi, sang pendeta biasanya mandi dengan air yang ditaburi bunga gadung dan pudak agar berbau wangi. “Sebagai bukti kehadiran Danghyang Nirartha ke tempat ini, sampai sekarang di mandala tengah Pura Geger masih tumbuh subur pohon sawo kecik. Adapun pohon kem ada di mandala utama,” papar Mangku Repot. Dalam sejumlah kakawin yang digubah di kawasan pantai selatan Bali, Mpu Nirartha memang begitu mendalam terpesona oleh keindahan pesisir Bali berpasir putih ini. Panorama alam berupa pohon sawo kecik, deburan ombak berbuih putih, kokokan ayam hutan, lekuk-liku kelokan teluk, onggokan batu karang berketinggian curam, hingga bongkahan-bongkahan daratan pulau-pulau alit kerap dibayangkan dan dimaknai sebagai ritus diri sang pendeta manakala melakukan pemujaan dengan samadi kehadapan Hyang Mahasuci. Purohita Kerajaan Gelgel ini memang kerap disebut-sebut berjalan menyusuri pesisir Bali, dari ujung barat ke selatan, sampai ke timur, dan juga utara. Dalam perjalanannya sang pendeta gemar menyinggahi pura. Beberapa di antaranya yang kini termasuk wilayah Kabupaten Badung, antara lain: Pura Uluwatu, Goa Gong, Batu Pageh, Bukit Payung, dan Goa Batu Matandal. Kemudian Pura Petitenget di Kuta, Pura Sada di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, serta Pura Pucak Tedung di Desa Sulangai, Kecamatan Petang. “Pura Geger tak pernah ada disebutkan secara eksplisit dalam berbagai sumber sebagai persinggahan Danghyang Nirartha. Palinggih stana Danghyang Nirartha juga tak ada khusus di Pura Geger,” urai Ketua Parisada Kabupaten Badung, Nyoman Sukada. Sesuai Purana Pura Ulun Suwi Jimbaran yang sempat dibaca Sukada, keberadaan Pura Geger justru bertalian erat dengan kisah perjalanan Dalem Petak Jingga, seorang petinggi yang hengkang dari Kerajaan Gelgel, Klungkung, sekitar tahun 1652 Isaka, ke Bali selatan. Pengungsian Dalem Petak Jingga yang diiringi ratusan pengikut tersebut dipicu oleh persengketaan dengan Ida Dalem Dimade yang menjadi Raja Gelgel saat itu. Sampai di tepian Pantai Geger ditemukan satu tempat suci dan di tempat inilah Petak Jingga beryoga. Dalam samadinya dia mendapat anugerah, kelak akan menjadi raja besar. Sepeninggal dari Geger, Dalem Petak Jingga melanjutkan lagi perjalanan ke arah selatan dan bertemu dengan alas jimbar (hutan sangat luas). Di hutan lebat inilah Dalem Petak Jingga serta pengiringnya berdiam. Lokasi ini kelak dikenal dengan nama Jimbaran. Tapi, siapa Dalem Petak Jingga? Teks Purana Pura Ulun Suwi tak ada mengungkap lebih benderang. Betapapun sumber-sumber ilmiah formal tak mudah dirunut, toh Pura Geger tetap diposisikan sebagai pura penting di pesisir selatan Bali. Semakin hari pura yang puncak upacara (piodalan)-nya jatuh pada Purnama Kenem panglong apisan (sehari setelah Purnama Kenem) ini tetap saja semakin dibanjiri pamedek. “Piodalan di Pura Geger ini,” tambah Jero Mangku Sania, “berlangsung tiga hari. Penanggung jawab utamanya adalah warga dua banjar adat, yakni Banjar Geger dan Sawangan.” Deretan bangunan suci yang ada tidak begitu banyak. Di sisi timur ada padmasana sebagai stana Hyang Mahatunggal, Hyang Widhi, lengkap dengan tatahan Badawangnala (simbolik api magma Bumi) dan belitan naga Anantabhoga (simbolik lapisan tanah) bersama Naga Basuki (simbolik lapisan air). Di selatan padmasana berdiri meru tumpang (tingkat) tiga sebagai bangunan suci pusat, stana Ida Batara Dalem Pamutih atau Ida Batara Dalem Segara. Sebelahnya lagi ada Gedong Pasadegan. Paling ujung selatan terdapat palinggih Tugu Penyarikan sebagai tempat menyembah Ida Dalem Gunung Raung yang oleh warga awam setempat diyakini sebagai pangabih (penjaga) Danghyang Nirartha. Pada sisi utara, di sebelah barat padmasana, juga ada meru tumpang tiga sebagai stana Sanak Dalem Satria. “Kehadiran meru tumpang tiga ini berkaitan erat dengan perjalanan salah seorang keluarga Raja Badung,” ungkap Mangku Sania. Berdasarkan cerita tetua yang sempat didengar Mangku Sania, dulu, konon ada seorang keluarga Raja Badung (kini Puri Satria, Denpasar) pernah bersalah di kerajaan. Merasa bersalah, orang ini lari meninggalkan kerajaan menuju Bali selatan hingga sampai di Pura Geger. Di Geger yang bersangkutan sembahyang, mohon agar diberikan keselamatan. Dia juga berjanji (masasangi) akan membangun palinggih. Setelah terhindar dari malapetaka, kaul itu pun ditebus dengan mendirikan meru tumpang tiga. “Tiap piodalan ada saja warga Puri Satria tangkil ke pura ini,” terang Sania. Di mandala tengah yang lapang, pohon sawo kecik tua nan rindang berdiri kukuh, mengepakkan daun-daunnya yang hijau. Tampak burung-burung bercengkerama tenang di sini. Di bawah pohon sawo kecik ini terdapat tugu, tempat memuja Ida Batara Ratu Gde Panataran Ped, Nusa Penida. Di Pura Geger, keindahan dan ketenangan itu terasa begitu sempurna, memang, di bawah buaian sinar rembulan purnama. Dari titik ketinggian ini, Nusa Dua, Jimbaran, hingga Kuta, bahkan Denpasar yang riuh dan pikuk oleh gemerlap lampu listrik dan bisnis pelancongan pun tampak dekat, nyata, nun di kerendahan sana—lalu mengusik, begitu kontras. Kerap Digedor Tengah MalamKapan waktu paling sibuk dan melelahkan bagi para pamangku Pura Geger? Ada dua jawaban. Pertama, ketika berlangsung piodalan, Purnama Kenem. Waktu itu, jan banggul Ida Batara Pura Geger ini jelas harus berlama-lama di tempat suci ini. Mereka mesti meladeni warga yang datang dari seantero jagat Bali yang hendak menghaturkan bakti. Kehadiran pamedek yang tak menentu—terkadang pagi-pagi, banyak pula tangkil malam hari menjadikan para pamangku harus siaga setiap saat. Apalagi semenjak dibuka langsung akses jalan ke pura, orang dari luar Nusa Dua bertambah banyak hadir. ”Kami kurang enak hati melihat orang yang sudah datang dari jauh, ternyata sampai di pura tak ada pamangku,” Nyoman Repot, Pamangku Pura Geger Dalem Pamutih, berdalih. Itu sebab, selama piodalan berlangsung antar-pamangku bergilir waktu bertugas. Satu lagi hari-hari pamangku Pura Geger harus siap-siap menanti dan begadang mengantarkan bakti umat adalah menjelang hajatan besar politik, seperti pemilu dan pemilihan kepala daerah. Tempat suci ini nyaris tak pernah sepi pengunjung. Ada saja yang datang, dari tokoh masyarakat, tokoh politik, petinggi daerah, hingga warga biasa. Kehadiran mereka juga tiada menentu. Sesuai pengalaman, Jero Mangku Made Sania, pangayah di Pura Geger, terkadang pagi sampai sore sepi. “Namun, begitu pulang, menjelang tengah malam ada yang datang mengedor-gedor pintu rumah, minta agar pamangku hadir ke pura,” tuturnya. Sebagai pamangku yang tugas pokoknya mengantarkan bakti umat, dia jelas tak hendak menolak. Langsung berangkat saat itu pula. “Saya tak berani memastikan maksud dan tujuan kehadiran pamedek dimaksud. Mungkin mereka memohon keselamatan agar yang akan dilaksanakan berjalan lancar.