Showing posts with label Aktivitas. Show all posts
Showing posts with label Aktivitas. Show all posts

March 23, 2011

NgAYaH

Kata Ngayah... Kerja Bakti... Gotong Royong, sudah demikian mengakarnya dibenak warga Banjar Jakarta Utara. Bahkan seringkali warga menanggalkan kepentingan pribadinya saat ada instruksi 'NgAYaH' dari Ketua Banjarnya. Pak Taguh misalnya, salah seorang warga tempek sukapura yang dengan suka cita membatalkan rencana 'belanja' untuk mengisi warung kelontong yang dikelolanya setelah mendapatkan info ada kegiatan 'NgAYaH di Pura Dalem Purnajati, ini baru satu contoh, masih banyak contoh2 yang lain.

Hari itu, Minggu 20 Maret 2011 ajakan 'NgAYah' Ketua Banjar Jakarta Utara disambut antusias oleh warganya, sehingga pekerjaan yang sesungguhnya berat itupun menjadi sangat ringan. Bahkan dapat diselesaikan melampaui target yang ditentukan.

Dari pengamatan selama ini 'NgAYaH' (di Pura) memunculkan efek keuntungan berganda, diantaranya:
  • Efek Kesehatan - Bila yang dikerjakan termasuk kategori berat, seperti angkat pasir, memindahkan batu bata (hitung2 olahraga.. hehehe)
  • Efek Ceria - Seruwet apapun persoalan baik dikantor ataupun dirumah saat membaur dengan pengayah lainnya pasti sirna dan berganti keceriaan.
  • Efek Kecerahan Batin - Setiapkali ada kegiatan 'NgAYaH' Pinisepuh yang hampir tidak pernah absen adalah Bp. Made Lanus. Beliau tak hanya pandai memotivasi pemuda untuk bahu membahu menyelesaikan pekerjaan, namun juga tak henti-hentinya memberikan wacana-wacana spiritual (sambil 'NgAYah'... sambil dengerin Dharma Wacana..)
Meski masih banyak efek2 lainnya, namun untuk sementara hanya efek itulah yang hendak disampaikan dalam tulisan ini.

Sebagai Pembaca yang bijaksana tentu tak akan percaya begitu saja dengan apa yang telah dipaparkan melalui tulisan ini dan tentunya ingin membuktikan kebenarannya kan? ...hehehe... Kebetulan, di Pura Dalem Purnajati saat ini sedang dilakukan RENOVASI TOTAL yang tentu saja banyak membutuhkan biaya dan tenaga.

Bagi yang berkenan YUK KITA NGAYAH...
Yang memiliki dana lebih... silahkan BERDANA PUNIA
Yang tak ada dana bisa NGAYAH TENAGA
Yang tak punya cukup tenaga, bisa tetap datang ke Pura Dalem..., setidaknya kedatangan Anda dapat memberikan semangat bagi pengayah lainnya.
Yang tak sempat datang bisa NGAYAH DENGAN DOA agar pembangunan dapat berjalan lancar....




--Pura Dalem Purnajati--
Jl. Raya Cilincing RT. 011 RW 015
Cilicing Jakarta Utara

--Bank Mandiri KCP JKT Mal Sunter--
Yayasan Suka Duka Banjar Jakarta Utara
No. Rekening: 120-00-0739567-1


February 20, 2011

Membuat Ogoh-ogoh

Seperti halnya Banjar2 lain di Jabodetabek, tahun 2011 ini Banjar Jakarta Utara juga akan ikut meramaikan Pawai ogoh-ogoh di Monas tanggal 4 Maret mendatang, berbagai persiapanpun telah digelar, dan semua dilakukan dalam nuansa kebersamaan.

Berikut adalah potret kegiatan yang sempat dibidik pada Minggu, 20 Februari 2011:


March 1, 2010

WINTEN SARASWATI

Udara sore ini demikian cerah, awan tebal yang baberapa hari lalu sempat menghalangi pancaran cahaya mentari, sudah tak tampak lagi. Seolah sengaja memberi kesempatan bagi suksesnya Upacara WINTEN SARASWATI yang saat ini sedang digelar di Pura Dalem Purna Jati Tanjung Priok.
WINTEN SARASWATI yang diprakarsai oleh Yayasan Pendidikan Mandira Widyaka-Banjar Jakarta Utara diikuti oleh kurang lebih 160 siswa-siswi dari Yayasan Pendidikan tersebut.

Upacara Pewintenan ini sendiri dimaksudkan untuk mensucikan batin para siswa-siswi, agar dapat lebih mudah menerima anugerah dari DEWI SARASWATI, berupa Ilmu Pengetahuan sekaligus agar kelak Pengetahuan yang telah diterima dapat dimanfaatkan sepenuhnya di jalan DHARMA.

March 24, 2008

Upacara Mlaspas Pura Budaya Jaya Sangga Buana

Berawal dari kunjungan persaudaraan ke komunitas suku dayak hindu budha bumi segandu, lahirlah harapan komunitas tersebut untuk lebih mengenal budaya & tradisi Hindu lebih dalam lagi. Maklumlah meski di “gapura padepokan” mereka jelas-jelas tertulis Suku Dayak Hindu Budha, namun mereka bukanlah beragama Hindu ataupun Buddha. Hindu Buddha hanyalah filosofi bagi mereka yang berarti HINDU= saat dalam kandungan dan BUDDHA = saat setelah kelahiran, sedangkan DAYAK sendiri berarti “diayak” jadi secara garis besar dapat ditarik kesimpulan mereka adalah komunitas yang telah diayak/disaring/dipilih oleh alam.


Keinginan mereka untuk mengenal HINDU menggugah kami “Remaja Utara” untuk memfasilitasi. Hingga terbentuklah panitia kecil yang terdiri dari beberapa sukarelawan, meski sempat terseok lantaran terbatasnya dana, namun akhirnya kami berhasil berkat dukungan para sahabat yang juga peduli.


Kami memanfaatkan moment Upacara Mlaspas Pura Budaya Jaya Sangga Buana untuk merealisasi keinginan Suku Dayak Bumi Segandu.


Jumat, 25 Januari 2008 tepat pukul 21.00 WIB. kami berangkat dari Pura Segara Jakarta Utara menuju Losarang-Indramayu dengan bus pariwisata. Berbagai “rasa” berkecamuk dalam hati saat itu, belum terbayang bagaimana terkejutnya umat di Jawa nanti saat tahu ada komunitas dayak diantara mereka.


Bus melaju dengan pasti lantaran kemudi dipegang oleh sopir yang handal. Lubang-lubang yang mengangapun berhasil dihindari tanpa mengganggu kenyamanan kami. Disela kesibukan sopir mengendalikan kemudi, kamipun asyik mendengarkan kidung-kidung yang dilantunkan oleh Romo Jati dan saudara-saudara dari Suku Dayak Bumi Segandu secara bergantian. Saking asyiknya kantuk pun terlupakan. Suasana akrab penuh kasih persaudaraan baluri jiwa hingga lelah raga tak lagi kami hiraukan.


Sabtu, tepat tengah hari, kami tiba di Klaten dan singgah di Candi Banyunibo. Setelah Tri Sandya, panca sembah dan MEDITASI kamipun berdharma tula, saling berbagi pengalaman dalam nuansa saling asih, saling asah dan saling asuh yang dipandu oleh Romo Jati. Setelahnya kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pura Budaya Jaya Sangga Buana.


Menjelang senja kami tiba di PURA yang terletak di Desa Jabung Kec. Ganti Warno Klaten Jawa Tengah. Setelah menyantap hidangan yang disediakan panitia kamipun segera membaur dengan umat untuk “ngayah” guna melengkapi sarana untuk upacaya mlaspas esok hari. Sebagian dari kami membuat “pajegan” dan sebagian lagi membuat hiasan dari janur ada juga yang membantu menata sesaji.


Keesokan harinya, Upacara Mlaspas digelar dengan Manggala Upacara Romo Pandita Puja Brata Sejati (Romo Jati). Semua berjalan indah, meski Pura Budaya Jaya Sangga Buana terbilang Pura yang sederhana lantaran hanya “disungsung” oleh 5 KK (puluhan lainnya sudah berpindah agama-karena kurangnya pembinaan), namun umat yang hadir saat itu tidak kurang dari 300 jiwa yang berasal dari berbagai desa di kecamatan Ganti Warno dan sekitarnya. Hadir pula saat itu Pedanda Sebali dari Tianyar BALI dan ketua Parisadha Klaten.


Sekitar pukul 14.15 WIB. upacarapun selesai, umat satu persatu beranjak meninggalkan pelataran PURA. Kamipun segera berkemas untuk kembali menuju Jakarta. Dalam perjalanan pulang kami sempatkan mengunjungi Pura Dharma Putra yang terletak di desa Jiwan (masih diwilayah Klaten). Menurut informasi yang kami dapat, umat didesa ini mencapai lebih dari 400KK, namun sayang karena sepertinya jarang ada pejabat setempat ataupun pusat yang melakukan pembinaan di desa ini.


Perjalanan pulang lebih banyak kami lalui dengan diam, bukan lantaran lelah semata, namun terbersit tanya akan asa yang entah akankah dapat terwujud. MUNGKINKAH IMPIAN akan JAYA-nya HINDU akan segera terwujud bila PEMBINAAN terhadap umat-umat terpencil diABAIKAN?


Tepat Jam 00.48 WIB dinihari, kami tiba di Losarang. Rasa haru baluri jiwa kala mesti berpisah dengan saudara-saudara kami Suku Dayak Bumi Segandu. Dan sekitar jam 05.05 WIB. kamipun tiba dengan selamat di Pura Segara Jakarta Utara dan segera bergegas ke lokasi masing-masing untuk kembali melakukan aktivitas rutin.


By: Den Mas Bagus Dhika

March 18, 2008

Bakti Sosial Sebagai Langkah Nyata Penerapan Ajaran TRI HITA KARANA

Masih dalam rangkaian kegiatan “NYEPI” Minggu, 16 Maret 2008 digelar BAKTI SOSIAL yang berupa Pengobatan Masal-GRATIS, yang diselenggarakan di Pura SEGARA tepatnya di Pelataran Balai Duka. Tidak kurang dari 300 orang hadir untuk mendapatkan pelayanan pengobatan gratis. Meski pada awal dibukanya acara terjadi sedikit kesemrautan, namun berkat kesigapan Panitia yang dibantu personil-personil muda KPSHD yang dikomandoi oleh I Wayan Tirta, serta dukungan penuh dari para sukarelawan semuanya dapat berjalan dengan lancar.


Panasnya udara kala itu, tak membuat para dokter-dokter muda nan handal itu mengeluh. Sambil sesekali menyeka peluh salah seorang dokter yang sempat menjadi aktifis di Jakarta Utara ‘dr. Nyoman Adiarthabara’ tetap mampu melayani para pasiennya dengan ramah, pun demikian dengan para dokter dan suster lainnya, semuanya bekerja tanpa pamrih, berbekal sebuah landasan “CINTA” mereka bekerja bahu membahu melayani masyarakat.


Semoga wujud kebersamaan ini senantiasa terpelihara, semoga perbedaan tak menjadikan aura KASIH terkotak-kotak, semoga hubungan manusia dan TUHAN-nya, hubungan manusia dan manusia serta hubungan manusia dengan alam lingkungannya tertata dengan INDAH diatas dasar KASIH semata.







By: Den Mas Bagus Dhika